Covid-19
Ubah Tradisi Lebaran
Selain
tradisi bulan Ramadhan yang berbeda, tradisi lebaran pun juga berbeda di tahun
2020 ini. Umat muslim di Indonesia dan beberapa negara lain di dunia merayakan
Idul Fitri 1441 H tidak seperti biasanya. Mengapa? Karena WHO sudah menetapkan
virus corona ini menjadi pandemi, artinya itu sangat berbahaya jika tidak
segera dihentikan. Di Indonesia, pemerintah mengeluarkan surat edaran melalui
Kementrian Agama Nomor 6 Tahun 2020 mengenai panduan beribadah Ramadhan dan
Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi Covid-19. Hal itu dilakukan demi
terputusnya rantai penyebaran Covid-19.
Semua
orang selama kurang-lebih sudah 3 bulan ini kegiatannya dibatasi, termasuk saya
dan keluarga. Saya dan keluarga kurang-lebih sudah mematuhi peraturan yang
dikeluarkan oleh pemerintah, seperti di rumah saja, selalu pakai masker kalau
keluar rumah, tidak ke masjid sementara, tidak berkerumun dengan teman atau orang
lain, dan lain sebagainya.
Ramadhan
di tahun-tahun sebelumnya umat muslim di seluruh dunia dapat menjalankannya
dengan santai, tenang, dan dengan berbagai macam tradisi daerah mereka
masing-masing yang menyenangkan. Namun, pada tahun 2020 ini, hampir seluruh
umat muslim di dunia tidak dapat menjalankan tradisi-tradisi di bulan Ramadhan
seperti biasanya. Tradisi yang dimaksud seperti buka bersama, pengajian akbar, dan
ngabuburit.
Takbiran
keliling kampung dan mudik lebaran juga dilarang oleh pemerintah. Dengan cara
baru mereka harus melaksanakan takbiran hanya di rumah saja. Semua warga
Indonesia dihimbau oleh pemerintah agar tidak melaksanakan takbiran di masjid,
kecuali takmir masjid setempat. Pemerintah sengaja membatasi agar tidak terjadi
kerumunan, sehingga meminimalisir terjadinya penularan Covid-19. Maka
pemerintah juga melarang masyarakat Indonesia yang berada di kota-kota untuk mudik,
karena bisa saja mereka membawa virus ke kampung halamannya dan semakin
memperparah keadaan pandemi ini.
Selain
itu, sholat Ied yang biasa dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau
lapangan sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi. Sholat Ied harus dilaksanakan
di rumah masing-masing bersama keluarga tercinta. Tradisi sungkeman dan
silaturahmi ke rumah tetangga dan saudara pun juga dilarang. Hal itu diganti
dengan cara virtual. Kita bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi zaman
sekarang, yaitu silaturahmi bisa dilakukan melalui media sosial, seperti aplikasi
whatsApp, instagram, dan lain sebagainya.
Saya
dan keluarga saya pun juga menerapkan hal tersebut. Walaupun kita sedang
merayakan lebaran, kita harus tetap mematuhi peraturan dari pemerintah. Di hari
lebaran, saya chatting dan video call bersama saudara-saudara saya
dan di malam harinya bersama dengan teman-teman saya. Walaupun terasa sedih
tidak bisa berjumpa, namun dengan kecanggihan teknologi saat ini Alhamdulillah
bisa sedikit mengobati rasa sedih sekaligus rindu yang kita semua rasakan ini.
Tidak
seperti lebaran sebelumnya,
kali ini tak ada satu pun orang yang datang bahkan sampai di hari kedua lebaran.
Selain mengikuti aturan pemerintah mungkin dikarenakan oleh jalan masuk kampung
saya yang ditutup atas kesepakatan warga. Jadi, di hari kedua lebaran pun tampak
sepi. Halal bihalal bersama keluarga besar yang harusnya dilaksanakan di hari
kedua lebaran pun juga sudah dibatalkan. Insya Allah keadaan ini cepat membaik
dan umat muslim di seluruh dunia bisa melaksanakan ibadah Ramadhan dan lebaran
secara normal kembali.



Komentar
Posting Komentar